Dua tahun sudah usia perdamaian. Banyak hal yang telah di Capai. Keamanan jauh lebih baik dibanding masa konflik. Warga, terutama petani sudah dapat kembali menggarap lahan mereka. Ada banyak kemajuan yang telah di capai terutama di bidang partisipasi politik.
Pilkada lalu sebagai puncak partisipasi politik rakyat dalam 2 tahun ini. Bidang ekonomi hanya sektor informal yang mulai nampak Pulih. Sedang sektor formal baru tahab wacana.
Pemerintah maupun pengusaha lebih banyak berbicara dari pada berbuat padahal bila kedua sektor ini bersinergis akan membuat perekonomian Aceh secara makro segera terangkat. Kami melihat, selama dua tahun usia perdamaian, banyak hal yang masih tercecer, salah satunya reintegrasi para mantan kombatan. Sampai sekarang ada banyak sekali keluhan para mantan “TNA” (Tentara Nangreo Aceh—red) dan korban konflik terhadap kinerja BRA (Badan Reintegrasi Aceh—red).
Kalau Kami istilahkan, BRA itu “NATO” (No Action Talk Only). Janji pemberdayaan secara ekonomi bagi mereka masih diawang awang. BRA Tidak mengedepankan akuntabilitas publik dalam mengelola dana tersebut.
Dengan tidak bermaksud mendapat Keistimewaan. Contohnya saya, rumah yang di bakar semasa konflik sampai kini belum di bangun padahal semua persyaratan telah kami penuhi. Konon lagi bagi mereka yang tidak punya kekuatan apapun.
Untuk itu, pemerintah Aceh dan BRA lebih banyak di lapangan dari pada di belakang meja. Untuk kita pahami mantan kombatan dan korban konflik harus lebih diistimewakan. Karena merekalah BRA hadir.
Waktu dua tahun merupakan masa yang panjang buat mereka untuk menunggu realisasi janji pemerintah. Para kombatan telah melaksanakan kesepakatan dengan kesediaan melepaskan diri sebagai pelaku perang. Namun kerelaan itu harus di barengi empati pemerintah supaya mereka dapat mengubur dalam-dalam semua pikiran negatif terhadap perdamaian ini.
Ada situasi yang sulit ketika mereka tidak punya sumber ekonomi untuk menopang keseharian. Situasi yang berbeda dengan saat perang dulu telah membuat mereka kehilangan orientasi positif terhadap janji janji pemerintah.
Harapan kami, program pemberdayaan ekonomi untuk korban konflik lebih kepada upaya memberi stimulir sehingga mengurangi tingkat ketergantungan mereka terhadap bantuan itu sendiri.
Pasca dua tahun perdamaian masih sangat tinggi kecurigaan para pihak. Terutama elit politik di Jakarta yang merasa paling benar terhadap apa yang mereka yakini. Tudingan atau tuduhan yang berbau ultra nasionalis kemudian membuat tingkat kecurigaan menjadi lebih tinggi. Tak usah meragukan nasionalisme Aceh dan jangan mengukurnya dari simbolisme.
Hari ini mari saling mengisi untuk mencapai semua perdamaian. Sejarah telah membuktikan hanya sekeping Aceh yang berdaulat ketika agresi belanda kedua tahun 1948. Kemudian menjadi modal Indonesia untuk tetap dianggap negara yang berdaulat.
Oleh karenanya jangan ada di antara kita merasa yang paling memiliki dan yang paling berhak atas bangsa ini. Tindakan politisasi terhadap aspirasi rakyat akan melahirkan antipati rakyat. Selama Dua tahun MoU penegakan hukum di aceh sangat kececeran. Anehnya, ini menjadi bola liar untuk menyudutkan KPA/GAM.
Kami mengecam setiap upaya politisasi pelanggaran hukum. KPA secara organisasi tetap mengedepan hukum. Bilapun ada anggota kami yang kemudian melakukan pelanggaran maka yang harus dilakukan adalah penindakan secara hukum, bukan menjadi komoditas politik murahan.
Aceh sekarang adalah tertip sipil maka polisilah yang paling berperan. Kami takut rakyat trauma dengan segala tindakan militeristik. Kami berharap ada saling kordinasi untuk hal hal yang dianggap masih dapat di musyawarahkan. Kecuali untuk pelaku pelanggaran hukum.
Ganjalan bidang politik juga terlihat seperti tidak turunnya Juklak dan Juknis verifikasi partai lokal. Kami menduga ini di sengaja untuk membuat parlok terlambat dalam melakukan sosialisasi diri kemasyarakat dan ini menguntung partai nasional yang sudah punya infrastrutur sampai ke desa. Semoga dugaan ini salah. Namun jangan ada lagi upaya menghangbat proses demokrasi atas alasan alasan yang tidak real.—kepada semua pihak kami berharap mari memelihara dan menjaga kecambah perdamaianini supaya menjadi pohon yang kuat dan menghasilkan buah yang manis. Hanya dengan upaya musyawarah dan saling menghargai serta tidak diembel embeli kepentingan kotor insya Allah semuanya akan tercapai.(kbs)
Komentar Terakhir