KOMITE Peralihan Aceh (KPA) secara organisasi mengaku tidak terlibat dan tidak bertanggungjawab terhadap insiden pencurian bendera merah putih dan penaikan bendera berlambang bintang bulan di kawasan Lhoksumawe dan Aceh Utara, Minggu (12/8) dini hari.
Juru bicara KPA Pusat, Ibrahim bin Syamsuddin KBS, di Banda Aceh, Senin (13/8), meminta polisi mencari pelaku perusakan dan penaikan bendera, sehingga tidak ada saling mencurigai dan saling menyalahkan. ”Kalau memang ada anggota KPA yang terlibat melakukan hal tersebut, kami tidak akan melindungi yang bersangkutan,” sebutnya.
Dia berharap, para elite untuk menghindari politisasi dari tindakan kriminal itu. “Lebih baik kasus ini dibawa ke jalur hukum dari pada ke wilayah politik, karena perdamaian lebih penting daripada kepentingan kelompok atau golongan,” ungkap Ibrahim.Secara organisasi, kata dia, sangat naif pihaknya melakukan hal itu. “Senjata saja yang dengan susah payah didapat, kami bersedia dimusnahkan, konon lagi hanya persoalan simbol bendera kemudian harus dibesar-besarkan untuk saling memojokkan,” katanya.
Menurutnya, Aceh sekarang daerah yang terbuka, dan banyak pihak sekarang berada di Aceh. ”Boleh jadi tangan-tangan jahil orang tidak menyukai perdamaian kemudian mengambil momen ini untuk menumbuhkan permusuhan sesama kita, segala kemungkinan harus dibuka, sehingga tidak menjadi kasus ini sebagai penghakiman kepada suatu kelompok,” ujarnya.(*)
menyoe kon ie leuhop
menyoe kindroe mandum gop.,,,,,,,,?
beu ingat2,,,,,,,,,,wahai saedara loen.