SETELAH MoU Helsinki ditandatangani GAM sudah mentransformasikan diri dari gerakan bersenjata ke gerakan politik demokrasi. Pendirian Partai GAM adalah sebagai bentuk manifestasi dari pilihan politik yang dijamin Undang-Undang.
Bagi GAM soal nama dan bendera adalah sebuah pilihan histori. Karena, GAM bukan lagi singkatan dari Gerakan Aceh Merdeka, namun satu kata yang sangat bermakna bagi perjuangan rakyat Aceh. Sedangkan bendera bukan simbol militer, melainkan identitas perjuangan. Maka, tidak ada larangan untuk menggunakannya. Semua simbol militer, seperti senjata, emblem, dan semua atribut berbau militer telah dimusnahkan. Bahkan, TNA telah dileburkan. Dan, kami tetap komit dengan perdamaian. Selama ini kami telah menunjukkan komitmen itu dengan mematuhi semua ketentuan Pemerintah RI.
Parlok GAM berdiri atas legalitas aturan Republik Indonesia. Jadi, tidak ada alasan menyebutkan kami punya skenario referendum yang berujung merdeka.
Ketika kami telah setuju berdemokrasi, mengapa pihak pemerintah pusat mencurigai. Sadarilah konflik Aceh lahir karena kecurigaan dan ketidakpercayaan pemerintah pusat terhadap Aceh.
Polemik partai dan lambang adalah episode ulang ultra nasionalis. Dan, negeri ini adalah negeri demokrasi. Jadi, tidak boleh ada pihak yang memaksa pembenaran atas pihak lain. Sikap alergi dan anti terhadap semua yang berbau GAM akan menimbulkan kontraproduktif bagi perdamaian Aceh. Mari melihat dengan hati nurani, bukan dengan kacamata kuda. Melihat simbol lain yang lebih tidak sesuai UUD dan aturan bernegara seperti lambang Ka’bah, patutkah negeri ini memproklamirkan sekterian . Konon lagi dengan lambang yang sesakral itu.
Kini kami hanya ingin bertanya, apa yang membedakan kami dengan mereka, sehingga harus mengalami diskriminasi.(*)
kita ingat sewaktu aidit tokoh PKI ketika dia mau dihukum mati diberi kesempatan untuk mengungkapkan, kata-kata terakhirnyakalau tidak salah ini juga dikutip sewaktu pembnekalan dari Leynan Purn ABRI 1945, wahai warga PKi kelas I berbondong-bondong mengungsi ke pulau Riau, wahai warga PKI kelas II berbondong-bondonglah mengungsi ke gereja dan Mesjid-mesjid, wahai warga PKI kelas III berbondong-bondong mengungsi ke….. (lupa lagi kata-katanya) ini menandakan labelnya berbeda meski berlabel Partai tetap saja des integrasi bangsa diambang kehancuran, mungkin 10 tahun atauy 15 tahun lagi indonesiaku hanya tinggal nama dalam kertas sejarah ngeri
NKRI harga mati
Salam Hormat,
Kini rakyat Aceh harus berani melawan setiap pernyataan yang merugikan perjuangan yang telah dilakukan pada syuhada sebelumnya. Jangan seolah-olah rakyat Aceh selalu ingin mengacaukan perdamaian. Selalu saja kita yang disalahkan dengan berbagai macam aturan undang-undang yang telah usang.
Andi Firdaus
http://www.andi-chse.blogspot.com
Assalamulaikum..!
Melihat fenomena politik di Aceh perlu ada suatu tatanan dan gaya hidup para petinggi dikalangan orang orang bepengaruh di aceh.
Sebab yang terjadi hari ini adalah banyak kata kata miris yang keluar walau pada hakekatnya watak masyarakat aceh tetap setia pada apa yang menjadi suatu kebenaran dalam membawa aceh kedepan dalam kemakmuran dan kejayaan.
ini perlu renovasi kembali pada jajaran dan generasi akan sebuah ideology dan pribadi khusunul khatimah dan warahmah dalam menyingkapi setiap persoalan yang terjadi ditengah tengah pengaruh politik didalam masyarakat.
kenapa masyarakat banyak diam dan kurang nya respon terhadap apa yang menjadi roda perjalanan kegemilangan aceh kedepan dalam pertarungan di pemilihan umum 2009.
masyarakat melihat fakta dan kenyataan pa yang telah diungkapkan tidak singkron dengan apa yang dilaksanakan dilapangan tolong ini di jadikan rujukan sebagai wahana dalam perspektif kehidupan ditengah tengah kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin di ACEH.
siramlah kembali dengan hati nurani yang bersih dan niat untuk kepentingan rakyat banyak.
kami melihat kenyataan dilapangan dan di beberapa kecamatan banyak terjadi persoalan ekonomi, bukan malah kepentingan PARLOK untuk membangun aceh.
yang memikir dan yang bekerja terhadap partai lokal dibiarkan anak anak ingusan dan anak anak kemaren sore yang bekerja tanpa di dampingi dan diarahkan oleh petuha petuha dan kalangan kalangan petinggi…apa tidak kah meliat realita dilapangan penuh dengan kebohongan dan kerja untuk partai hanya sebatas dan hanya sekedar saja. di tinggkat daerah OK. tapi coba tgk terjun sendiri ke mukim mukim dan ke kampung kapung dan lihatlah kenyataan itu.
hari ini masih aja di manfaatkan oleh peting-petinggi daerah sedangkan anak ingusan bekerja tanpa pamrih walau dengan harus menutang untuk membiayai suksesnya acar atersebut demi suksenya partai aceh di 2009.
tapi adakah kepedulian oleh petinggi untuk terjun ke desa dalam membantu apa yang menjadi tanggung jawab bersama.
lihatlah dan datanglah ke setiap mukim, lihat dan pelajari kemungkinan kemungkian. untuk dibahas dalam agenda rapat mansigom donya..
kami butuh tgk-tgk karena petinggi tinggakt derah dan sagoe banyak melupakan kami, banyak membiarkan kami begitu saja, kami bekerja tulus dan ikhlas tapi kemanakah perhatian tgk-tgk dalam keseriusan dan kesungguhan membuat suatu perubahan baru di aceh.
melihat kenyataan dilapangan semacam seala kadar…..padahal butuh panduan yang mendasar dalam mengajak kembali petuha petuha gampong untuk memikirkan tanggu jawab ini.
mana realita ini…yang bekerja malah mati matian dipertahankan dan dengan gigih dimemberi semangat kepada masyarakat digampong…tapi pernahkah kepedulian untuk meluruskan ditingkat sagoe dan daerah…semuanya berentakan…
kalo ini memang tgk peduli juga untuk..tolonglah terjun kemukim mukim tgk lihat. sejauh mana kinerja dan sejauh mana penyelewengan anggaran untuk partai di tingkat tingkat daerah dan ini bisa tanyakan langsung kemukim mukim di setiap sagoe…
kunjungi http://partaiaceh1.wordpress.com
Wahai Aneuk Nanggroe Dirikanlah Aceh Ini di atas pondasi yang kuat
degan cara jangan terpecah hanya karna provokasi
dan junjung para syuhada kita
salam buat semua mantan tna atjeh.